Riak Air Guci

Menyempurnakan Warisan

Arsip Digital

Filosofi Motif

Menelusuri jejak sulaman emas tradisional Banjar. Setiap riak benang dan tata letak manik-manik menyimpan cerita tentang kearifan lokal yang abadi.

Kategori Koleksi

Pakem

5 Motif Tersedia
Kambang Sakaki (The Floral Bouquet in a Vase)

Kambang Sakaki (The Floral Bouquet in a Vase)

Divisualisasikan sebagai rumpun bunga yang tumbuh anggun dan tersusun rapi di dalam sebuah jambangan atau vas, motif Kambang Sakaki menyimpan makna mendalam sebagai sebuah 'doa visual' bagi kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, serta kejayaan yang diharapkan tumbuh abadi dalam kehidupan. Karena kedalaman nilai filosofisnya, motif pakem ini menempati kedudukan yang sangat terhormat dalam tradisi kriya Banjar. Hal ini dibuktikan melalui penggunaan tradisionalnya yang dikhususkan untuk menghiasi busana-busana agung seperti Tapih Nanang dan Tapih Galuh, busana pengantin adat Banjar, hingga ornamen sakral pada dinding panataian (pelaminan) serta kemegahan singgasana raja.

Pucuk Rebung (The Bamboo Shoot Pattern)

Pucuk Rebung (The Bamboo Shoot Pattern)

Ditampilkan dalam bentuk geometris segitiga sama kaki yang runcing dengan hiasan stilasi jantung di bagian intinya, motif Pucuk Rebung (atau secara lokal ditulis Pucuk Rabung) diambil dari wujud tunas bambu muda yang baru saja muncul ke permukaan tanah. Secara mendalam, kuncup rebung yang belum merekah ini dianalogikan sebagai simbol kesucian, kehormatan, dan kemurnian jiwa para pemuda-pemudi (perawan dan perjaka) suku Banjar yang tengah memasuki usia produktif. Lebih dari sekadar lambang moralitas, motif adiluhung ini membawa untaian doa akan pertumbuhan jiwa yang cepat, keteguhan cita-cita yang tinggi, serta manifestasi prinsip hidup yang kokoh layaknya bambu—tak mudah patah walau diterpa angin cobaan zaman. Atas dasar kesakralan filosofi tersebut, penerapan motif ini secara tradisional disematkan pada kelengkapan busana bangsawan seperti Tapih Nanang, Tapih Galuh, Baju Galuh, dan Laung Nanang (ikat kepala pria), serta menjadi dekorasi utama pada dinding panataian (pelaminan adat) hingga kemegahan singgasana raja.

Pucuk Rabung Balucuk (The Pointed Bamboo Shoot Pattern)

Pucuk Rabung Balucuk (The Pointed Bamboo Shoot Pattern)

Ditampilkan dalam bentuk geometris segitiga sama kaki yang runcing dengan hiasan stilasi jantung di bagian intinya, motif Pucuk Rabung Balucuk diambil dari wujud tunas bambu paring yang baru saja muncul ke permukaan tanah. Secara mendalam, kuncup rebung yang masih tertutup dan belum merekah ini dianalogikan sebagai simbol kesucian, kehormatan, dan kemurnian jiwa para pemuda-pemudi (perawan dan perjaka) suku Banjar yang masih bujang. Lebih dari sekadar lambang moralitas, motif adiluhung ini membawa untaian doa akan pertumbuhan jiwa yang cepat, keteguhan cita-cita yang tinggi, serta manifestasi prinsip hidup yang kokoh layaknya bambu—tak mudah patah walau diterpa angin cobaan zaman. Atas dasar kesakralan filosofi tersebut, penerapan motif ini secara tradisional disematkan pada kelengkapan busana bangsawan seperti Tapih Nanang, Tapih Galuh, Baju Galuh, dan Laung Nanang (ikat kepala pria), serta menjadi dekorasi utama pada dinding panataian (pelaminan adat) hingga kemegahan singgasana raja.

Kambang Waluh (The Pumpkin Blossom Pattern)

Kambang Waluh (The Pumpkin Blossom Pattern)

Mengabadikan keindahan flora khas Banua, motif Kambang Waluh diambil dari wujud mekar kembang tanaman waluh (labu) yang tengah menjalar aktif. Secara visual, motif pakem ini dicirikan oleh mahkota bunga berunsur kelopak ganjil—biasanya berjumlah lima atau tujuh—dengan sulur tangkai berkelok-kelok dinamis yang saling menyambung tanpa putus melalui titik pusat penyatuan di tengah bunga. Karakteristik botani ini diperkuat oleh susunan daun ganjil berkisar antara satu hingga tiga helai pada setiap sulurnya, lengkap dengan detail ujung tangkai yang digambarkan sedang menjalar luwes. Di balik jalinan visualnya yang estetis, Kambang Waluh membawa kedalaman filosofi sebagai simbol kesuburan, kemakmuran, serta kebesaran jiwa masyarakat Banjar. Pola sulur yang tak terputus merupakan untaian doa agar keberkahan dan rezeki terus mengalir secara berkesinambungan. Atas dasar kesakralan tersebut, motif adiluhung ini secara tradisional diaplikasikan pada busana adat bernilai tinggi seperti Tapih Nanang, Tapih Galuh, Baju Kurung Galuh, Laung Nanang (ikat kepala pria), serta menjadi hiasan utama pada dinding panataian (pelaminan) hingga kemegahan singgasana raja.

Kambang Kacang (The Legume Vine Pattern)

Kambang Kacang (The Legume Vine Pattern)

Terinspirasi dari karakteristik tanaman kacang panjang yang tumbuh merambat aktif (malayap), motif Kambang Kacang menampilkan struktur visual berupa suluran yang berkelok-kelok dinamis secara vertikal maupun horizontal. Pola pergerakan tanaman ini digambarkan melalui istilah lokal baluk-kaluk (berkelok), bagilit-gilit (berpilin), dan bahular-hular (menyerupai liukan ular) yang saling bertautan erat serta menyambung tanpa putus tiada akhir. Secara mendalam, Kambang Kacang berfilosofikan nilai luhur kebersamaan, semangat gotong royong yang kokoh, keakraban antar-sesama, serta untaian doa akan daya hidup yang tidak pernah padam. Atas dasar makna sosiologisnya yang kuat, motif pakem adiluhung ini secara tradisional diaplikasikan pada kain sandang kehormatan seperti Tapih Nanang, Tapih Galuh, kain pengantin adat Banjar baik pria maupun wanita, hingga tapih untuk orang dewasa. Selain itu, motif ini juga menghiasi elemen sakral interior istana, mulai dari dinding panataian (pelaminan), kemegahan singgasana raja, hingga kelambu (tirai tempat tidur) dekoratif kesultanan.

Siap Memiliki Potongan Sejarah?

Jelajahi Koleksi
Layanan Concierge Tanya Sekarang